Thursday, January 7, 2010

Manfaat hipnotis bagi praktisi Direct Selling / MLM


Belakangan soal hipnotis banyak diperbincangkan oleh praktisi pemasaran dan penjualan. Banyak workshop, seminar, atau pelatihan diadakan untuk membekali para praktisi mengembangkan kemampuan mereka. Adakah relevansi ilmu yang sedang ngetop ini dengan dunia direct selling.
Sebenarnya apa pengertian hipnotis?
Hipnotis berasal dari kata hypnos yang artinya tidur, namun hipnotis itu sendiri bukanlah tidur. Secara sederhana, yaitu fenomena yang mirip tidur, di mana alam bawah sadar lebih mengambil peranan dan alam sadar berkurang peranannya. Pada kondisi ini seseorang menjadi sangat sugestif (mudah dipengaruhi), karena alam bawah sadar yang seharusnya menjadi filter logic sudah tidak lagi mengambil peranan. Seseorang yang terhipnotis sebetulnya pada kondisi sangat terkonsentrasi yang sangat fokus.

Hipnotis sering diidentikkan dengan kejahatan gendam. Apa bedanya?

Pada prinsipnya untuk mengakses alam bawah sadar seseorang bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik. Semisal teknik verbal (sugesti), teknik relaksasi progresif, teknik penggunaan energi, teknik visualisasi, dan teknik mistik (supranatural, baik ilmu hitam maupun putih). Semua teknik diatas disebut sebagai teknik hipnotis.
Pada umumnya kesuksesan penggunaan teknik hipnotis memerlukan kerjasama antara penghinotis dan yang dihipnotis. Artinya seseorang bisa saja menolak untuk dihipnotis dengan cara ini. Sebenarnya tidak ada yang namanya orang menghipnotis orang lain. Yang sebenarnya adalah seseorang menghipnosis diri sendiri dengan dibantu oleh orang lain (penghipnotis) sebagai fasilitatornya. Semua proses hipnotis adalah self hypnosis, yang dipandu (difasilitasi) oleh seorang penghipnotis.
Sedangkan untuk teknik mistik, tidak diperlukan kerjasama antara penghipnotis dengan yang dihipnotis. Di sini pelaku menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk mengakses alam bawah sadar orang lain. Umumnya teknik ini dikenal sebagai ilmu mejikcdan lain-lain yaitu menggunakan azimat dan mantra tertentu yang diperoleh melalui laku (ritual atau prosesi mistis) tertentu.
Memang ada juga kejahatan yang menggunakan hipnotis dan tidak menggunakan ilmu mistik, namun menggunakan kekuatan kata-kata. Biasanya ini dilakukan pada orang yang mudah dibuat bingung, saat di terminal, dan keramaian.
Apakah ilmu hipnotis ini ada dasar ilmiahnya? Jelaskan!
Sejak tahun 1815, Abbe Jose Castodi de Faria, sudah melakukan penelitian hipnotis secara ilmiah. Dilanjutkan berbagai tokoh semacam Emile Coue, Dr. James Braid (1848), Milton Erickson, MD dan sebagainya. Tahun 1955, British Medical Association (sekarang disebut BHA atau British Hypnotherapy Association) mengesahkan hypnotherapy sebagai “valid medical treatment. Tahun 1958, American Medical Association (AMA) men-support hypnotherapy untuk keperluan medis. Setelah 1950, banyak berdiri asosiasi profesional di berbagai negara.
Belakangan hipnotis dimanfaatkan sebagai salah satu teknik pengembangan diri. Apakah hal itu mungkin?
Ya, jelas bisa. Pada umumnya, program pengembangan diri terkadang gagal karena individu tidak berhasil meyakinkan diri sendiri untuk berubah karena mengalami yang namanya “self-sabotageâ€Â. Proses self sabotage adalah proses di mana alam sadar menyabot proses mental yang tengah dilakukan seseorang pada saat ia ingin melakukan perubahan diri.
Misal: seseorang melakukan afirmasi di depan kaca dan mengatakan “Saya orang yang suksesâ€Â sebanyak 100 kali, namun setiap kali ia mengatakan itu, di sisi pikirannya terbersit suatu keraguan, kesangsian, “Masak sih, selama ini saya toh gagal”. Nah, pikiran ini berasal dari fungsi alam sadar yang terus-menerus mengontrol dan mengkritisi segala sesuatu yang masuk ke pikiran.
Jadi di sini, alam sadar justru mensabotase kehendak kita untuk berubah, dengan cara menyajikan berbagai realitas dan fakta lampau bahwa kita bukanlah orang yang sukses.
Saat ini sejumlah trainer atau coach menawarkan hipnotis untuk membantu para pemasar atau penjual. Apakah bisa?

Bisa!
Hipnotis bisa dimanfaatkan dalam dua aspek; pertama, menghipnotis si sales person untuk self improvement, dan kedua menghipnotis orang lain (customer) agar lebih percaya dengan si penjual.
Pertama, dalam pelatihan yang saya lakukan, misalnya saya menghipnotis trainee agar tidak fobia menelepon atau fobia prospecting. Hipnotis juga bisa membuatnya lebih percaya diri saat presentasi, lebih percaya akan goal pribadinya, lebih berenergi, dst.
Kedua, hipnotis verbal atau yang dikenal dengan teknik sugesti (indirect communication). Secara sederhana, teknik ini menggunakan pola-pola bahasa tertentu (hypnotic language pattern ) untuk mengakses pikiran bawah sadar lawan bicara sehingga bisa dipengaruhi. Di sini seorang sales belajar menggunakan pola-pola kata yang berkekuatan sugesti untuk mempengaruhi prospek agar membeli.
Contoh yang sering dipakai didunia DS/MLM atau asuransi adalah yang disebut dengan double binding , yaitu mengarahkan pikiran prospek untuk memilih A atau B yang keduanya berarti membeli, dan jangan sampai berpikir tidak membeli. Misalnya, penjual bertanya: “Mau beli berapa kilo?, Mau dibawa sendiri atau diantar, Anda mau mengambil produk paket yang ada diskon tambahan atau memilih kombinasi produk sendiri?”, dan seterusnya.
Apakah hal itu tidak bertentangan dengan moral dan etika bisnis?
Dengan menggunakan pola kata hipnotis, maka seseorang prospek akan menjadi lebih lunak dan sugestif sehingga ia mau menbeli produk atau jasa itu. Pada saat ia tahu bahwa produk atau jasa tadi ternyata memang dia sangat perlukan, maka ia akan berterima kasih. Disini jelas terlihat bahwa apabila seorang salesperson menjual produk atau jasa yang kualitasnya buruk, namun ia menggunakan bahasa hipnotis, maka ini tidak beda dengan bunuh diri. Karena cepat atau lambat kastemernya akan menyadari bahwa ia tidak mendapatkan janji seperti yang disampaikan si salesperson. Jadi penggunaan bahsa hipnotis untuk marketing atau sales seharusnya dalam batas koridor untuk membantu seseorang supaya berani dan siap untuk segera mengambil keputusan membeli.
Menurut anda, apakah hipnotis ini bisa benar-benar dimanfaatkan secara sehat dan maksimal dalam pengembangan bisnis seseorang?
Bisa! Gunakanlah hipnotis untuk menghipnotis diri Anda sendiri. Terutama untuk meng-install berbagai sikap positif, perilaku asertif, percaya diri, dll.
Hal apa yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku DS/MLM?
Dalam dunia direct selling, beberapa tantangan terbesar seorang salesperson adalah;
  1. Self motivating (selalu bisa memotivasi diri) dan self determination (punya goal yang jelas);
  2. State management (selalu bisa mengelola kondisi pikiran dan mentalnya, yang akan menghadapi penolakan, keberatan, pelecehan, penghinaan dan ditinggalkan oleh grup).
  3. Positive self image (selalu bisa melihat diri sendiri positif dan tidak melakukan self depreciation, atau self blaming, dst).
  4. Positive Belief System (selalu percaya bahwa apa yang dijualnya adalah sesuatu yang positif, berguna, dan dalam rangka menolong orang lain supaya lebih baik, lebih mudah, lebih sukses kehidupannya – bukannya menjebak orang supaya membeli agar dirinya mendapat komisi.
  5. Rapport Skill (selalu bisa memiliki kemampuan membina hubungan yang baik dengan mitra kerja dan prospek).
  6. Persuasion skill dan handling objection.
Bisa dilihat, dari seluruh poin di atas, kita menggunakan hipnotis justru ditujukan pada diri si salesperson. Sedangkan hanya dua poin terakhir kita memanfaatkan pola bahasa hipnotis untuk mempengaruhi orang lain (dengan tujuan baik).
Saran anda bagi para penjual langsung yang ingin mencoba teknik hipnotis ini?
Ikuti pelatihan atau dapatkan bimbingan dari coach atau trainer yang berlisensi jelas. Gunakan hipnotis untuk memperbaiki kualitas diri, jauh lebih penting dari pada untuk mempengaruhi prospek. Ingat pameo yang mengatakan Prospect buy you, not your products.
Hindari membohongi prospek dengan cara apa pun, baik cara hipnotis maupun non hipnotis. Juallah produk yang memang berkualitas, sehingga tidak menjadi bumerang bagi Anda.
(Artikel ini adalah wawancara Ronny FR oleh Edy Z, pernah dimuat di Buletin “Info APLI Edisi XXX/Oktober-Desember 2005)
Filed Under: Hypnosis/therapy

Premarital Achievement

Taukah Anda???
Menikah bukan bersoalan janji....
Menikah bukan persoalan sumpah setia....
Menikah bukan hanya sekedar tinggal bersama...
Lebih dari itu......
Jauh dari itu.......
Menikah adalah persoalan tanggung jawab.....
Bukan hanya pada pasangan kita....
Melainkan pada Tuhan, keluarga,anak-anak,bahkan cucu kita nantinya...
Tanggung jawab untuk membuatnya tetap berada di jalannya
Walupun banyak hambatan dan kelokan....
Usaha kita dipertaruhkan....
Bukan sekedar cinta.....
Karena pernikahan kita menjadi dasar pernikahan selanjutnya
Pernikahan generasi kita.....

Namun, jangan pernah takut untuk menikah...
Takutlah pada tidak dipersiapkannya pernikahan dengan baik...
Persiapkan segalanya dengan cara apapun....
Belajar dari apapun.....
Mulai dari dirimu sendiri.....

- Penulis -


Anda akan segera menikah? atau
Anda pengantin baru?


Apakah anda ingin :

  • Pernikahan yang penuh dengan keharmonisan?
  • Pernikahan yang mendatangkan kebahagiaan?
  • Mampu mengatasi konflik dalam rumah tangga?
  • Mampu memahami secara mendalam karakteristik pasangan anda?

MARI PERSIAPKAN PERNIKAHAN ANDA MULAI DARI SEKARANG....!!!

Kami membuka Premarital Achievement Class

Hari : Sabtu - Minggu
Tanggal : 20 - 21 Maret 2010
Pukul : 08.00 - 16.00
Tempat : Hotel Sahid Surabaya
Investasi : Rp. 1.000.000,- / peserta (Erly Bird s.d 06 Februari Rp. 1.500.000 untk 1 Pasangan)

SEGERA!!! DAFTAR DAN BERGABUNG BERSAMA KAMI

Lascha Citta Pratama
Jl Rungkut Asri Timur RK V Blok E - 26 Surabaya
Tlp. 031 - 8796699 / 77705095

Jangan Tunggu setelah Menikah

Karena biasa dikaitkan dengan bulan madu, pernikahan sering dibayangkan serbamanis, serbaindah. Namun, ada juga yang membayangkan pernikahan jauh dari keindahan. Bayangan perceraian, perselingkuhan, dan pertengkaran membuat sebagian orang ragu, bahkan takut, menikah.

Menurut Inne Pramundita SPsi, psikolog Lascha Citta Pratama , ragu atau takut menikah bisa dipengaruhi trauma atau kondisi di lingkungan sekitar. Misalnya, dalam keluarga yang broken home, anak melihat orang tuanya sering bertengkar. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan begitu bisa tumbuh dengan trauma. "Namun, bisa juga dia tumbuh menjadi anak yang tangguh," tambahnya.

Stimulan bisa juga muncul dari kondisi sekitar, terutama orang-orang terdekat. Misalnya, seseorang dikelilingi teman dengan pengalaman buruk dalam perkawinan. ''Cerita-cerita mereka bisa membuatnya berpikir negatif terhadap pernikahan,'' tuturnya.

Karena itu, bagi mereka yang segera menikah, Dyah menyarankan agar menghindari dulu pergaulan dengan teman yang punya banyak pengalaman buruk dalam pernikahan. "Cerita mereka memang bisa menjadi pelajaran yang baik. Namun, saat menjelang menikah, sebaiknya mencari lingkungan yang berpengaruh positif dulu. Maksudnya, teman yang punya pengalaman positif dalam pernikahan,'' paparnya. Dengan begitu, rasa percaya diri akan terdongkrak dan keraguan terkurangi.

Dia mengingatkan, tidak mudah menyatukan dua hal yang berbeda dalam pernikahan. Misalnya, sifat pasangan yang berbeda. ''Sifat merupakan hal yang sulit, bahkan tidak bisa diubah,'' ujarnya. Karena itu, diperlukan saling pengertian pada masing-masing pasangan.

Untuk membekali diri terhadap problem yang potensial dialami pasangan menikah, calon mempelai dianjurkan berkonsultasi sebelum pernikahan berlangsung. ''Problem itu mungkin permasalahan ekonomi rumah tangga, sifat pasangan yang buruk, atau rahasia terpendam yang bisa mengancam pernikahan,'' tutur Inne.

Bagi pasangan yang baru memulai hubungan, dianjurkan tak berusaha menutupi kekurangan saat penjajakan. Jika ada masalah yang berkaitan dengan sifat, pemikiran, atau kebiasaan pasangan, ungkapkan saat itu juga. ''Jangan berpikir masalah akan selesai dengan sendirinya setelah menikah." (war/soe)

Pede v Identitas Kelompok

Tindik lidah bisa jadi sekadar tren. Namun, tak jarang pula ada sesuatu di balik itu. ''Ada eksistensi dan identitas diri yang ingin ditunjukkan melalui tindik tersebut,'' kata Inne Pramundita SPsi, psikolog Lascha Citta Pratama .

Identitas itu, kata Inne, bisa bersifat individu atau kelompok. Biasanya, ada komunitas orang-orang dengan kesenangan yang sama. Kebanyakan di antara mereka memasang tindik di tempat tertentu seperti bibir, hidung, dan lidah. ''Kalau tidak pakai, dia bisa jadi tidak diakui komunitasnya,'' imbuh Inne.

Meski begitu, ada juga yang lebih individual. Seseorang memakai tindik karena ingin tampil beda. Dia ingin orang menilai tindik itu sebagai ciri khas atau identitasnya. "Dengan begitu, rasa pede (percaya diri) tumbuh,'' ujar R. Amirul Rasyid Yulianto SPsi. Namun, ingat Amirul, tindakan tersebut bisa jadi hanya kedok untuk menutupi kekurangan.

Suatu saat, lanjut Amirul, pemakai tindik bisa saja melepaskan tindiknya. Setelah menikah, misalnya. Karena cintanya kepada sang istri, dia rela melepaskan tindik yang menjadi ciri khasnya. Atau, bisa juga terjadi sebaliknya. Si istri justru ikut-ikutan memakai tindik. ''Tinggal pengaruh siapa yang lebih kuat, istri atau suami,'' tegas Amirul.

Dalam kasus tersebut, lingkungan bisa sangat berpengaruh. Karena itu, pola asuh sejak kecil dalam keluarga sangat penting. Dalam kaitan tersebut, dianjurkan menghindari bahasa larangan dan mengutamakan bahasa positif.

Dicontohkan Inne, lebih baik pakai bahasa "yang rajin ya'' daripada "ayo belajar, jangan malas-malas". Kalau yang terakhir dipilih, yang terekam justru malasnya. "Atau, kalau kita bilang tindik itu sakit, mereka justru akan mencoba untuk membuktikan benar sakit atau tidak," terangnya.

Dengan bertambahnya kematangan, anak akan mengerti mana yang baik dan mana yang tidak. Yang perlu diingat, bertambahnya usia bukan berarti makin matang. Seseorang bisa dianggap matang atau dewasa jika bisa mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. "Jika anak memakai tindik tetapi prestasinya di sekolah tetap bagus, ya tidak masalah," ucapnya.

Bagi mereka yang memakai tindik, rasa sakit itu tergantikan rasa percaya diri yang didapatkan. Meski begitu, tindiknya mungkin akan dilepaskan jika lidah mereka bengkak dan infeksi. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka kapok. "Sebetulnya, kalau rasa percaya diri mereka sudah cukup tinggi dan eksistensi mereka diakui, tindik itu tidak dibutuhkan," tambahnya. (war/soe)

Wednesday, January 6, 2010

Percaya Diri Atasi Gagap


Latah Hilang saat Tertekan

JIKA mendapati anak gagap bicara (stuttering), jangan diolok-olok, apalagi dibentak. Tindakan begitu justru akan menurunkan mental si anak.

''Bukannya jadi lancar, anak mungkin justru ngambek tidak mau bicara,'' kata Nur Ainy Fardana Nawangsari SPsi MSi. Gagap, lanjut Nur Ainy, adalah kemampuan bicara yang kurang lancar. Kondisi tersebut bisa dialami anak-anak hingga dewasa.

Penyebab gagap, menurut Nur Ainy, banyak. Pertama, ketidaksinkronan antara proses informasi dan kemampuan berbicara. Ketika berbicara, ada koordinasi antara rangsangan dari otak dengan pita suara, gigi, mulut, dan sistem pernapasan. Normalnya, semua organ itu dapat berfungsi simultan dan otomatis.

Pada penderita gagap, hal normal itu tak terjadi. Terlalu banyak informasi yang ada di otak. Namun, ada kesulitan untuk mengungkapkan secara verbal dengan lancar. Ibarat mobil, untuk menghidupkan mesin, harus menyalakan starter lebih lama. ''Sehingga, pada penderita gagap, tidak mudah berbicara sesuai kecepatan, tekanan, dan ejaan yang tepat,'' jelasnya.

Penyebab kedua adalah dinamikan pola asuh. Dosen psikologi Unair itu mengatakan, anak gagap jangan dibuat cemas dan tertekan. Dalam kondisi tersebut, anak tak bisa bicara dengan lancar. ''Makin gugup atau cemas, kemungkinan jadi gagap tambah besar,'' katanya.

Adakah faktor bawaan? Nur Ainy mengiyakan. ''Ada faktor genetik, tapi bukan penyebab utama,'' ujarnya. Jarang sekali, kata dia, anak tiba-tiba menjadi gagap ketika dewasa. Pasti sejak kecil anak memiliki bakat gagap.

Penanganan gagap, menurut Nur Ainy, bisa dilakukan dengan terapi perilaku. Salah satunya, anak dibuat santai, tidak tegang atau cemas. Kemudian, anak diajak bicara perlahan-lahan. Biarkan penderita bercerita mengenai sesuatu yang disukainya. ''Jangan ada desakan. Itu akan memicu anak jadi gagap lagi,'' kata Nur Ainy.

Terapi lainnya adalah membiasakan anak menulis apa yang akan dikatakan. Dengan menulis, lanjut wanita 37 tahun itu, komunikasi anak lebih terarah. Kebiasaan menulis juga mengurangi rasa cemas anak ketika hendak bicara. ''Jika anak pede (percaya diri), sedikit demi sedikit bicaranya akan tambah lancar,'' imbuhnya.

Bagaimana dengan latah? ''Latah bukan penyakit, melainkan kebiasaan,'' kata Inne Pramundita SPSi, psikolog Lascha Citta Pratama 3.

Awalnya, seseorang mungkin ikut-ikutan temannya yang latah. Saat kaget atau digoda, dia mengeluarkan kata-kata khas. Misalnya, ''Eh copot-copot''. Lalu, dia menjadi bahan tertawaan atau godaan teman-temannya. ''Kebiasaan bisa masuk ke alam bawah sadar seseorang. Contohnya, saat berjalan atau naik sepeda, tiba-tiba saja sudah berada di rumah, tidak terasa di perjalanan. Begitu juga latah,'' jelas Woelan.

Karena dianggap lucu dan bisa menarik perhatian orang, ada perasaan bangga yang muncul pada orang latah. Mereka senang digoda karena kelatahannya. Lalu, tiap kali digoda, dia mengeluarkan kata-kata tertentu hingga menjadi kebiasaan atau tindakan refleks.

Latah, lanjut dia, juga bisa muncul karena ada model atau contoh orang latah yang bisa ditiru. ''Saya punya mahasiswa yang sekeluarga latah. Pertama kakaknya, lalu adiknya, baru ibunya. Heboh jadinya,'' tutur Dra Woelan Handadari MSi, kepala Departemen Psikologi Klinis Universitas Airlangga.

Latah dalam batasan kata-kata, lanjut dia, tidak apa-apa. Tetapi, akan berbahaya jika latah memengaruhi refleks gerakan. ''Bahaya kalau tidak bisa direm. Misalnya, disuruh buka baju pun dilakukan. Atau, teman bilang tabrak mobil, si latah beneran menabrakkan diri ke mobil. Kan bahaya,'' tuturnya.

Woelan mengatakan, ada mahasiswanya yang latah hingga memengaruhi refleks gerakan. ''Anehnya, saat ada petir, dia takut dan tidak latah saat dilatahi teman-temannya,'' ujarnya.

Begitu juga saat temannya mengatainya copet. Kebetulan Woelan tahu, lalu memarahi anak yang latah itu karena latah dengan kata-kata jelek. Sejak itu, di depan Woelan, dia tidak berani latah. Itu berarti latah bisa muncul pada keadaan tertekan.

Karena bukan penyakit, tidak ada obat khusus untuk latah. Namun, ada beberapa cara untuk mengurangi atau menghilangkan latah. ''Hindari lingkungan yang ada orang latahnya. Selain itu, harus ada keinginan kuat untuk menghilangkan kebiasaan tersebut,'' imbuhnya. (war/ai/soe)